Selamat Datang

Selamat datang di blog saya, mari kita berbagi, agar hidup ini menjadi lebih berwarna...

Rabu, 07 September 2011

Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit

“Sang Primadona”, mungkin itu sebutan yang cocok untuk tanaman kelapa sawit saat ini. Salah satu bidang usaha yang berhasil melewati badai krisis, bahkan semakin berjaya. Para pengusahapun berlomba untuk berinvestasi di bidang ini. Dengan begitu tingginya antusiaisme orang berinvestasi, menyebabkan semakin berkurangnya lahan-lahan yang baik. Akibatnya lahan-lahan dengan tingkat kesuburan yang rendahpun dimanfaatkan.  Tak terelakan lagi, produktivitaspun menjadi rendah.
Secara umum, produktivitas tanaman kelapa sawit ditentukan oleh factor genetik, tanah, iklim dan management.
Potensi produksi yang ada (aspek genetik) pada umumnya masih belum tercapai, bahkan sangat jauh. Terjadinya gap produksi ini, diantaranya adalah fakor tanah, iklim dan management. Seperti yang telah disampaikan, dengan ekspansi yang besar-besaran, telah menyebabkan pemanfaatan lahan dengan tingkat kesuburan (baik fisika, kimia maupun biologi) yang rendah. Sementara iklim juga sering menjadi factor utama yang menjadi pembatas pencapaian potensi yang ada. Kedua factor tersebut merupakan fix aspect, yang tidak mungkin akan berubah. Namun demikian bisa dimanipulasi sehingga menjadi lebih baik dan sesuai untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara lebih optimal. Bagaimana bisa ? melalui management perkebunan yang baik, melalui praktek-praktek yang baik, aspek-aspek yang “kurang mendukung”  bisa dirubah dan akan meningkatkan produktivitas tanaman dengan nyata.
Management yang dimaksudkan adalah management nutrisi, management konservasi tanah dan air, management tanaman, management panen dan management sumber daya manusia. Penerapan management yang baik, merupakan factor utama yang bisa dilakukan untuk pencapaian potensi produksi yang ada.
Banyak perkebunan yang tidak mencapai potensi produksi, bukan hanya disebabkan factor pembatas tanah dan iklim yang tidak sesuai. Namun juga dari aspek management yang tidak tepat. Misalnya kegagalan dalam menentukan dosis pupuk, jenis pupuk, waktu dan cara pemupukan yang baik, sehingga efisiensi penggunaan unsur hara tidak tercapai, padahal biaya pemupukan bisa mencapai 60 % dari total biaya operasional. Sebagai akibatnya, selain produktivitas menjadi rendah, efisiensi pun tidak tercapai karena terjadi pemborosan (ketidaktepatan dosis, jenis dan waktu pemupukan). Mengapa hal ini bisa terjadi ? tentu disebabkan keterbatasan sumber daya manusia. Sebagai side effect dari ekspansi yang bebsar-besaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar